Minggu, 8 November 2026 Berita Terkini & Terpercaya
nboogaard.comnboogaard.com
nboogaard.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Aku Baru Sadar: Berita di Meja Makan Kami Ternyata...

Aku Baru Sadar: Berita di Meja Makan Kami Ternyata Bukan Obrolan Biasa

Keluarga kecil di kota besar sering menganggap berita cuma konsumsi pribadi. Padahal, cara kita membahasnya di rumah membentuk cara anak melihat dunia.

Aku Baru Sadar: Berita di Meja Makan Kami Ternyata Bukan Obrolan Biasa

Beberapa minggu lalu, anak gue yang baru kelas 4 SD tiba-tiba nanya di tengah makan malam, "Pa, kalau ada berita yang bilang semua orang jahat, beneran nggak?" Gue kaget bukan karena pertanyaannya susah, tapi karena gue sadar pertanyaan itu muncul dari layar yang dia lihat di ruang tamu. Dari notifikasi yang lewat di HP gue. Dari potongan berita yang gue putar sambil setengah dengerin.

Dan di situ gue mulai mikir: selama ini gue nganggep berita itu urusan gue sendiri. Padahal di rumah kecil kami—dua kamar, satu TV, satu meja makan—berita nggak pernah benar-benar jadi konsumsi pribadi. Selalu ada yang denger. Selalu ada yang nyerap.

Baca juga: Pemadaman Dibantu Damkar Malinau, DPRD Nunukan Minta Pemda Tambah Mobil Pemadam di Mansalong-Lumbis

Yang Nggak Pernah Dibahas: Berita Itu Menu Bersama

Kalau kamu baca artikel soal literasi media, hampir semuanya ngomongin hal yang sama: cara cek fakta, cara kenali hoax, cara filter sumber. Semua itu penting. Tapi ada satu hal yang jarang banget disentuh, padahal buat keluarga kecil di kota besar ini mungkin lebih relevan.

Berita itu nggak berhenti di layar HP kamu. Dia lanjut ke dapur, ke kamar mandi waktu kamu ngomong sendiri, ke meja makan waktu kamu komentar "ih parah ya", dan ke telinga anak yang kelihatannya lagi main lego.

Gue nggak bilang kita harus sensor semua. Itu nggak realistis, apalagi buat keluarga yang tinggal di kota dan tiap hari kena paparan berita dari mana-mana. Tapi yang sering kelewat itu: kita nggak pernah mikirin bagaimana berita itu mendarat di kepala anggota keluarga lain.

Anak-anak nggak belajar dari apa yang kita suruh baca. Mereka belajar dari apa yang kita baca sambil bereaksi.

Reaksi Kita Lebih Berisik daripada Isi Beritanya

Ini yang gue sadari belakangan. Waktu gue baca berita soal kriminal, gue kadang nyeletuk, "Duh, makin nggak aman aja." Kalimat itu buat gue cuma lepas. Tapi buat anak gue, itu jadi kesimpulan besar tentang dunia luar.

Padahal isi beritanya mungkin cuma satu kejadian di kecamatan yang jauh dari rumah kami. Yang nempel di kepala anak bukan detailnya, tapi nada suara gue.

Gue sempat ngobrol sama tetangga, seorang ibu dengan dua anak, dan dia cerita hal serupa. Anaknya jadi takut naik sepeda di komplek gara-gara denger obrolan soal penculikan yang ramai di grup WA. Padahal beritanya belum jelas, dan lokasinya beda kota. Tapi anak nggak tahu itu. Yang dia tahu: orang tuanya kelihatan takut.

Nah, ini yang jarang dibahas. Kita sibuk mikirin apakah berita itu benar atau hoax, tapi lupa mikirin efek emosionalnya ke orang lain di rumah.

Hal kecil yang mulai kami coba

Gue nggak mau sok jadi keluarga teladan. Kami masih berantakan. Tapi ada beberapa hal sederhana yang pelan-pelan kami ubah:

  • Nggak komentar keras di depan anak. Kalau mau ngomentarin berita yang bikin emosi, gue tahan sampai anak tidur. Bukan buat nyembunyiin, tapi biar reaksinya nggak jadi "kebenaran" buat dia.
  • Nanya balik. Kalau anak denger sesuatu, gue coba tanya, "Menurut kamu kenapa begitu?" Sering jawabannya bikin gue sadar dia nangkep hal yang nggak kepikiran sama gue.
  • Pilih satu berita ringan buat dibahas bareng. Kadang kami bahas berita soal hewan atau penemuan kecil. Bukan yang berat. Cuma biar berita nggak selalu identik sama rasa takut.
  • Jujur kalau gue nggak tahu. Kalau ada berita yang gue sendiri belum paham, gue bilang belum tahu. Nggak pura-pura punya jawaban.

Kota Besar Bikin Berita Terasa Lebih Dekat dari Seharusnya

Ada satu hal lagi yang khas keluarga urban. Kita tinggal di kota, dan berita soal kota ini datang terus-terusan. Macet, banjir, kriminal, demo, harga naik. Semuanya terasa dekat karena lokasinya memang dekat.

Tapi "dekat secara lokasi" nggak sama dengan "dekat secara hidup". Berita soal kejadian di kecamatan sebelah bisa bikin kita merasa dunia lagi runtuh, padahal hari itu anak kita cuma mau main di taman depan rumah.

Gue bukan ahli psikologi, dan gue nggak mau ngarang data. Tapi dari pengalaman sendiri, keluarga kecil di kota gampang banget kelebihan beban berita. Kita kena notifikasi, grup WA keluarga, grup komplek, grup sekolah, semuanya nge-share berita. Dan tanpa sadar, rumah kita jadi ruang redaksi kecil yang nggak pernah tutup.

Yang bikin repot: anak-anak ikut jadi "audiens" tanpa pernah diminta izin.

Bukan soal berhenti baca berita

Gue nggak setuju sama saran ekstrem buat nggak baca berita sama sekali. Buat keluarga di kota, berita itu tetap perlu—buat tahu jadwal pemadaman air, info sekolah, harga pasar, dan lain-lain.

Yang gue usulin cuma satu: mulai perlakukan berita sebagai sesuatu yang dibahas, bukan cuma dikonsumsi. Kayak kita nggak asal kasih makan ke anak, tapi mikirin porsinya. Sama juga dengan berita.

Kalau kamu punya anak kecil di rumah, coba deh satu minggu ini perhatiin: berita apa yang masuk ke rumahmu, dan reaksi siapa yang paling kelihatan. Mungkin kamu bakal kaget, seperti gue waktu itu di meja makan.

Karena pada akhirnya, yang membentuk cara anak kita melihat dunia bukan cuma berita yang dia baca. Tapi cara kita membicarakannya sambil makan malam.

Tags: berita keluarga literasi media pola asuh keluarga urban kebiasaan membaca