Gue masih inget momen itu. Jam sebelas malam, lagi ngejar deadline tugas, tiba-tiba grup WhatsApp keluarga ramai. Ada link berita: "Gempa Besar Akan Guncang Pulau Jawa Malam Ini." Ancaman, panik, doa. Ibu gue sampai nelpon, suaranya gemetar. Padahal besoknya BMKG bilang itu info lama yang didaur ulang. Dan gue, mahasiswa perantau yang jauh dari rumah, cuma bisa garuk-garuk kepala sambil mikir: kenapa gue ikut panik padahal gue belum cek apa-apa?
Nah, tulisan ini bukan buat ngejek yang percaya. Justru sebaliknya. Gue mau ngomongin satu hal yang jarang banget dibahas soal berita, khususnya buat kita yang ngekos, ngekontrak, atau ngejauh dari kampung halaman: berita itu nggak cuma soal benar atau salah, tapi soal jarak kita dari konteksnya.
Kita Baca Berita Pakai Emosi, Bukan Pakai Konteks
Coba inget lagi. Terakhir kali kamu share berita ke grup keluarga, kamu baca dulu sampai habis, atau cuma baca judulnya? Jujur aja, gue sering nggak sabar. Judulnya udah bikin dada panas, langsung forward. Apalagi kalau beritanya soal kampung halaman kita. Ada rasa pengen cepat-cepat jadi orang pertama yang kasih tahu.
Masalahnya, jadi perantau itu artinya kita kehilangan banyak konteks. Kita nggak tahu situasi jalanan di sana, nggak tahu siapa tokoh lokal yang lagi ribut, nggak tahu kebiasaan warga. Yang kita punya cuma layar HP dan perasaan rindu rumah. Dua hal itu campur jadi satu, dan tiba-tiba berita paling sensasional terasa paling benar.
Baca juga: Bupati Kabupaten Nunukan Apresiasi Mabes Polri Tangkap 4 Anggota Polres
Gue pernah kena sendiri. Ada berita soal kerusuhan di dekat kampus daerah gue. Gue panik, telepon teman, sampai nyuruh dia pulang. Ternyata videonya dari tahun lalu, lokasinya beda kota. Malu? Iya. Tapi dari situ gue belajar satu hal: perasaan rindu dan cemas itu bikin kita gampang dimanipulasi.
Berita yang paling bikin kita emosional, biasanya justru yang paling perlu kita cek dua kali.
Kenapa Mahasiswa Perantau Jadi Sasaran Empuk
Ada beberapa alasan yang bikin kita rentan, dan ini bukan soal IQ.
- Kita konsumsi berita sambil multitasking. Sambil nunggu kelas, sambil di angkot, sambil ngerjain tugas. Nggak ada waktu buat baca lengkap.
- Lingkaran sosial kita terbelah dua. Grup keluarga di kampung dan grup kampus di kota. Dua-duanya kirim berita, dua-duanya punya versi sendiri.
- Kita kesepian. Ini yang jarang diakui. Berita viral jadi bahan obrolan, jadi cara biar tetap nyambung sama orang rumah. Share berita = bilang "aku masih peduli".
- Kita nggak punya "wasit" lokal. Di kampung, ada tetangga yang bisa dikonfirmasi. Di kos, kita cuma punya HP.
Lihat poin ketiga? Itu yang paling sering diabaikan. Kita share berita bukan selalu karena percaya, tapi karena butuh koneksi. Dan sayangnya, algoritma tahu banget soal kebutuhan ini. Dia kasih kita berita yang bikin emosi, karena emosi bikin kita nempel di layar.
Jeda 10 Detik yang Nggak Pernah Kita Lakuin
Gue bukan ahli media. Gue cuma mahasiswa yang pernah salah forward. Tapi ada satu kebiasaan kecil yang gue coba dan lumayan ngefek: sebelum share, tahan 10 detik. Tanya tiga hal simpel.
Pertama, siapa yang nulis? Kalau nggak ada nama media atau penulisnya, curiga. Kedua, kapan kejadiannya? Banyak berita lama didaur ulang jadi seolah baru. Ketiga, apa ada sumber lain? Kalau cuma satu situs yang ngomong, tunggu dulu.
Sepuluh detik itu kerasa lama, apalagi kalau beritanya bikin panas. Tapi percaya deh, sepuluh detik lebih murah daripada malu karena udah bikin satu grup keluarga panik semalaman.
Yang Lebih Penting dari Sekadar "Anti Hoaks"
Selama ini narasi yang kita dengar cuma satu: jangan termakan hoaks. Seolah masalahnya cuma di berita palsu. Padahal, berita yang benar pun bisa bikin kita salah paham kalau konteksnya hilang.
Contoh gampang. Ada berita "harga sembako naik". Beneran naik. Tapi kalau kamu nggak tahu naiknya cuma di satu pasar, atau cuma satu komoditas, kamu bisa panik dan nelpon ibu nyuruh belanja banyak. Padahal ibu di kampung udah tahu situasinya. Di sinilah kita sering lupa: orang di rumah punya informasi yang lebih lengkap soal kampung halaman daripada kita yang jauh.
Jadi mungkin yang perlu kita ubah bukan cuma cara cek berita, tapi juga cara kita bersikap. Daripada jadi penyebar info, coba jadi penanya. "Bu, bener nggak berita ini?" Itu jauh lebih dewasa daripada langsung share sambil nulis "hati-hati semua!!"
Buat yang Ngekos Jauh dari Rumah, Ini yang Gue Lakuin
Gue nggak mau sok ngasih ceramah. Ini cuma kebiasaan yang pelan-pelan gue bangun, dan kadang masih gagal juga.
Pertama, gue pisahin grup. Grup keluarga tetap gue baca, tapi gue nggak langsung respon. Gue kasih waktu satu-dua jam, baru balik lagi. Kedua, gue langganan satu atau dua media yang gue percaya, dan sengaja baca versi lengkapnya, bukan cuma judul. Ketiga, kalau ada berita soal daerah gue, gue tanya langsung ke orang rumah, bukan ke internet.
Dan yang paling penting: gue sadar kalau rasa panik gue sering bukan soal beritanya, tapi soal rasa jauh. Kadang yang gue butuhin bukan update berita, tapi nelpon ibu dan denger suaranya bilang "aman, nak".
Jadi lain kali HP kamu bergetar dan grup keluarga ramai, coba berhenti sebentar. Bukan buat jadi skeptis ke semua orang, tapi buat sadar bahwa kamu lagi jauh, dan jarak itu bikin kamu gampang dibawa arus. Cek dulu, tanya dulu, baru share. Kamu nggak harus jadi orang pertama yang tahu. Kamu cukup jadi orang yang nggak bikin orang lain panik tanpa alasan.