Gue baru aja balik dari liburan singkat ke Yogyakarta. Dan jujur, pemandangan di Malioboro malam itu bikin gue kaget setengah mati. Bukan karena macetnya — itu udah biasa. Tapi karena banyaknya anak muda yang bawa tripod dan kamera mirrorless, sibuk bikin konten di setiap sudut jalan. Ada yang lagi joget TikTok di depan Gedung Agung, ada juga yang serius banget fotoin lampu jalan yang katanya "aesthetic".
Fenomena ini bukan cuma di Jogja. Beberapa teman gue yang baru pulang dari Labuan Bajo, Danau Toba, sampai Raja Ampat cerita hal yang sama: pariwisata Indonesia lagi berubah wajah. Dan perubahan ini nggak melulu soal jumlah kunjungan, tapi soal cara kita jalan-jalan.
Bukan Cuma Bali, Destinasi "Sekunder" Mulai Dilirik
Data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menunjukkan sesuatu yang menarik. Sepanjang awal 2025, kunjungan ke destinasi yang dulu dianggap "pelengkap" naik signifikan. Wakatobi naik 34 persen, Belitung naik 28 persen, dan yang paling mengejutkan: Kepulauan Sangihe di Sulawesi Utara naik hampir 50 persen.
Kenapa? Salah satu faktornya karena media sosial. Dulu orang cuma tahu Bali, sekarang algoritma TikTok dan Instagram bikin kita sadar bahwa Indonesia itu luas banget. Ada pantai yang nggak kalah cantik dari Kuta tapi sepi, ada sawah terasering yang nggak kalah dari Ubud tapi tiket masuknya cuma lima ribu perak.
Gue sendiri pernah ke Pulau Pahawang di Lampung tahun lalu. Nggak ada hotel bintang lima, nggak ada beach club. Tapi snorkeling di sana? Bikin gue mikir, "Kenapa gue baru ke sini sekarang?"
Wisata Berkelanjutan: Jargon atau Kenyataan?
Istilah sustainable tourism atau wisata berkelanjutan makin sering muncul di brosur travel dan caption influencer. Tapi apakah ini cuma gimmick marketing?
Menurut gue, campur aduk. Ada yang serius, ada yang cuma tempelan label. Contoh yang serius: pengelolaan Taman Nasional Komodo yang sekarang membatasi jumlah kunjungan harian. Atau desa wisata di Penglipuran, Bali, yang benar-benar melibatkan warga lokal dalam setiap keputusan.
Tapi ada juga yang bikin geleng-geleng kepala. Sebuah "eco resort" di Lombok yang katanya ramah lingkungan, tapi tiap pagi buang sampah plastik ke TPS biasa tanpa dipilah. Ya gimana mau berkelanjutan?
"Pariwisata yang baik itu bukan yang mendatangkan banyak orang, tapi yang bikin orang ingin datang lagi tanpa merusak tempat itu." — seorang pemandu lokal di Labuan Bajo yang gue temui bulan lalu.
Kalimat itu nempel banget di kepala gue. Karena sering kali kita sebagai turis lupa: kita datang ke tempat orang lain. Bukan ke taman hiburan yang bisa kita rusakin sesuka hati.
Tips Jalan-Jalan ala Gue di 2025
Nih, beberapa hal yang gue pelajari dari perjalanan-perjalanan terakhir. Mungkin berguna buat kamu yang lagi plan liburan.
- Pergi di hari kerja. Serius, ini game changer. Pantai yang biasanya penuh, pas Selasa-Rabu bisa jadi milik kamu sendiri.
- Bawa tumbler dan tote bag. Nggak cuma buat gaya-gayaan. Di banyak destinasi sekarang ada refill station air minum gratis.
- Makan di warung lokal, bukan cuma di kafe instagramable. Harga lebih murah, rasanya sering lebih enak, dan uangnya langsung ke warga.
- Riset sebelum ke sana. Jangan cuma lihat foto di Pinterest. Cek apakah destinasi itu butuh pemandu, apakah aksesnya sulit, apakah ada aturan adat yang harus dihormati.
- Jangan kejar "hidden gem" yang udah viral. Kadang yang benar-benar hidden itu justru tempat yang belum ada di Google Maps.
Soal Transportasi dan Infrastruktur
Ini bagian yang masih bikin frustrasi. Gue akui, akses ke banyak destinasi sekarang jauh lebih baik dibanding lima tahun lalu. Tol Trans Jawa bikin perjalanan darat jadi nyaman. Penerbangan ke Indonesia timur juga makin banyak pilihan.
Tapi begitu sampai di destinasi, kadang masih chaos. Angkutan umum nggak jelas, jalan rusak, sinyal hilang. Di satu sisi ini bikin petualangan lebih seru. Di sisi lain, buat turis yang bawa anak kecil atau orang tua, ini bisa jadi mimpi buruk.
Pemerintah daerah sebenarnya udah mulai bergerak. Beberapa kabupaten di Flores dan Sumba sekarang punya aplikasi transportasi lokal. Tapi ya, masih belum merata.
Yang Paling Gue Tunggu di 2025
Ada beberapa hal yang bikin gue excited tentang pariwisata Indonesia tahun ini. Pertama, makin banyaknya digital nomad yang memilih tinggal lebih lama di satu tempat. Ini bagus karena mereka biasanya lebih menghargai lingkungan dan lebih banyak berinteraksi dengan warga lokal.
Kedua, tren slow travel. Daripada keliling 10 kota dalam 7 hari, sekarang banyak orang memilih fokus di satu daerah dan benar-benar menyelami budayanya. Gue termasuk yang begini. Liburan terbaik gue bukan yang paling banyak foto, tapi yang paling banyak ngobrol sama orang lokal.
Ketiga, dan mungkin yang paling penting: kesadaran bahwa pariwisata itu bukan cuma soal kita sebagai turis. Ada warga yang hidup di sana, ada ekosistem yang harus dijaga, ada budaya yang harus dihormati.
Kalau kamu lagi mikirin liburan berikutnya, coba deh pertimbangkan destinasi yang belum pernah kamu dengar. Atau kembali ke tempat yang dulu kamu suka, dan lihat bagaimana tempat itu berubah. Kadang yang paling menarik dari perjalanan bukanlah tempat barunya, tapi cara pandang kita yang baru.
Gue udah mulai nabung buat ke Raja Ampat tahun depan. Katanya di sana masih ada desa yang belum terjamah listrik 24 jam. Dan gue penasaran: apakah ketiadaan sinyal justru bikin liburan lebih bermakna? Kita lihat nanti.